Postingan

La La La Leeds!: Menelusuri Inggris dan Seluk Beluknya

Gambar
Sampul Depan "La La La Leeds!" Judul Buku           : La La La Leeds!: Catatan Perjalanan Mahasiswa Indonesia di Inggris Penulis                  : Wisnu Prasetya Utomo Penerbit               : Buku Mojok Tahun                    : Februari 2019 Beberapa bulan yang lalu melalui laman media sosial, saya mendapatkan sebuah informasi mengenai akan diterbitkannya buku “La La La Leeds!” ini. Sebelumnya, ketika sang penulis buku ini masih berada di Leeds untuk melanjutkan kuliah master Communication and Media di University of Leeds , saya telah mengikuti beberapa cerita yang ia unggah di blog pribadinya. Kemudian ketika buku tersebut benar-benar akan rilis pada pertengahan Februari lalu, saya ikut menjad...

Rehat: Yang Kau Takutkan Takkan Terjadi

Gambar
                  Setiap manusia pasti pernah melewati titik terendahnya. Ketika manusia berada di titik tersebut, yang mereka inginkan adalah suatu penenang. Penenang agar selalu menjadi kuat, agar bisa merasakan masih ada orang lain yang siap membantunya. Paling tidak untuk sekadar mendengarkan segala ceritanya. Akhir-akhir ini isu mengenai mental health (kesehatan mental) sedang ramai dan banyak dibicarakan dengan berbagai sudut pandang dan cerita yang beragam. Mulai dari depresi dan bahkan hingga percobaan bunuh diri. Tirto.id pernah merilis artikel bertajuk “Skripsi, Depresi, dan Bunuh Diri”. Di artikel tersebut, dituliskan bahwa riset yang dilakukan oleh Benny Prawira Siauw, seorang ahli kajian bunuh diri (suicidolog), tercatat sebanyak 34,5 persen dari 284 responden (mahasiswa) di Jakarta memiliki pemikiran untuk melakukan percobaan bunuh diri. Ia juga menambahkan, bahwa faktor penyebab bunu...

Catatan Sebuah Buku Catatan

Gambar
Sebuah Kado   Pada 2 Juli 2018, dua orang kawan saya datang dengan membawa sebuah buku catatan untuk saya. Buku itu bersampul tebal warna hijau dengan kertas-kertas polos coklat tak bergaris di dalamnya. Untuk teman saat KKN, kata mereka. Senang hati saya dibuatnya, bisa untuk menjadi buku catatan harian saya selama 50 hari di Pulau Sebatik. Semenjak pertama kali melewati malam di Desa Liang Bunyu, Sebatik Barat, saya sudah menuliskan cerita saya di buku tersebut. Untuk kenang-kenangan. Selain cerita sehari-hari, saya juga memanfaatkannya untuk menulis hal-hal lain seperti catatan uang kas dan catatan rapat. Karena begitu pentingnya buku tersebut untuk saya di sana, saya menyebutnya dengan panggilan “kitab”. Setiap malam, saya menyempatkan untuk menulis kejadian yang saya alami di sana kemudian menyimpannya di tas atau bawah kolong tempat tidur. Beberapa kali pula buku tersebut saya bawa ke mana-mana karena keperluan menulis agenda yang lain.

#3: Gantungan Kunci Ilham

Gambar
Ilham dan Aldi “Kakak foto kami ya, kak. Supaya nanti kalau kakak sudah tidak di sini, ada kenang-kenangan untuk kakak,” celetuk Ilham, sepulang sekolah.                 Ialah Ilham, sang ketua kelas 1 dan 2 yang selalu rajin saat berada di kelas. Badannya paling tinggi di antara murid-murid kelas 1 dan 2 yang lain. Di saat ruang kelas mulai gaduh dengan tingkah murid-murid yang tidak bisa diam, maka Ilham dengan jurus ketua kelasnya, membantu saya meredakan suasana gaduh tersebut. Dengan bantuannya, setidaknya ruang kelas bisa tenang, meski sejenak.

#2: Kadesku, Pahlawanku

Gambar
Malam Perpisahan bersama Warga Liang Bunyu Beberapa hari yang lalu, seorang kawan saya yang dulu pernah tinggal satu atap saat ibadah Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengunggah beberapa foto kenangan KKN kami di instagram. Tentunya dilengkapi dengan keterangan foto yang memaksa pikiran saya untuk terbang melintasi beberapa bulan yang lalu, kemudian singgah di rentang akhir Juli hingga September. Tepatnya di sebuah rumah panggung di pinggir laut, di ujung negara ini. Sebuah rumah yang kemudian menjadi tempat tinggal kami selama 50 hari di sana.                  Satu foto yang begitu menarik bagi saya. Sebuah foto yang ia unggah pada tanggal 15 Desember 2018. Sebuah perahu kecil di tengah laut. Perahu yang mengantarkan kami meninggalkan lokasi KKN kami saat itu. Satu hal yang menarik di balik perahu mungil tersebut. Ialah Kepala Desa Liang Bunyu –   jika   di sana kami memanggilnya dengan “Pak De...

#1: Badai di Tanah Orang

Gambar
Berfoto di depan posko Suara angin itu membangunkan tidur secara paksa. Saya yang selalu was-was dengan hujan di malam hari, seketika terbangun dan mengenakan pakaian jaket ketika mendengar desis angin yang kian lama kian kencang. Ketika kebanyakan orang menyukai hujan di   malam hari, saya merasa saya sebaliknya dari mereka. Sejak kecil saya selalu berpikir berlebihan ketika mendengar suara hujan turun di malam hari, apalagi jika disertai angin. Seperti malam itu.

Secuil Jejak Sinawang di Astana Giribangun

Gambar
8 April 2018. Di Astana berdelapan minus Okik dan Nisa 8 April 2018 Pagi itu, selepas subuh, mobil yang kami tumpangi telah melaju di jalan Yogyakarta – Karanganyar. Dengan menahan posisi duduk yang berdempetan, kami bersuka cita menyambut perjalanan kami ini. Perjalanan selama kurang lebih tiga jam tersebut nantinya akan menjadi sebuah cerita perjalanan yang lucu bagi kami.                 Jalanan masih sepi, matahari pun masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Pun kami, ada yang masih menahan kantuk pagi itu. Kami berdelapan orang berangkat ke Karanganyar memang pagi-pagi sekali. Tujuan kami hari itu adalah Astana Giribangun. Makam keluarga Soeharto, presiden Republik Indonesia ke-2. Berbekal teknologi canggih bernama Google Maps, kami mengikuti alur jalan yang ada. Beberapa kali kami harus mencari jalan lain karena jalan utama digunakan untuk Car Free Day .

Malam 10 Januari di Kaliurang

Gambar
Ramai-ramai  Malam 10 Januari 2018 di Kaliurang begitu dingin.                 Saya melangkahkan kaki menghampiri Sang Merah Putih. Dengan menahan dingin setelah tangan dan wajah terbasuh air beberapa detik sebelumnya, pikiran saya terbang menghampiri ingatan 5 tahun lalu. Prosesi penghormatan bendera mengingatkan saya ketika pengukuhan Paskibraka kala itu. Begitu khidmat.                 Dua hari sebelumnya, di sebuah tempat yang lumayan luas, saya bersama dengan 28 kawan baru—yang kelak akan menjadi bagian dari perjalanan kurang lebih satu tahun atau bahkan lebih—dikumpulkan menjadi satu. Seharusnya kami bertiga puluh orang. Saya menengok sekeliling, tempat yang lumayan bagus untuk kami singgahi beberapa hari ke depan. Sebelah selatan lapangan terdapat rumah bersusun dua lantai dan berdinding kayu. Rumah tersebut yang akan...

#Narasi, Membaca Nonfiksi Rasa Fiksi

Gambar
(Dimuat di Nuansa Kabar edisi bulan Maret 2017) Judul Buku                        : #Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme Penyunting                        : Wisnu Prasetya Utomo Penerbit                            : Pindai Tahun Terbit                     : 2016 Tebal Halaman                  : i-xviii + 466 halaman Belakangan ini di dunia maya sedang marak adanya berita-berita yang singkat, cepat, dan mayoritas dari mereka hanya mengandalkan satu atau dua narasumber. Bisa dikatakan pula, saat ini media online sedang “naik daun” dan sangat digemari oleh masyarakat untu...

Kancil dan Tarzan: Sebuah Analogi

Gambar
Bersama Surayah “Waktu akan membuatmu lupa, tapi menulis akan membantumu mengingatnya.”             Minggu, 26 Februari 2017. Pukul 08.50 WIB aku sudah mendaratkan kakiku di sana. Di sebuah halaman parkir sebuah gedung megah di Jalan HOS Cokroaminoto. Halaman parkir yang tak begitu luas namun cukup untuk menampung beberapa kendaraan bermotor itu tempatku menunggu dibukanya gerbang menuju sebuah seminar kepenulisan. Di depan halaman parkir tersebut berdiri dengan megahnya sebuah gedung bertuliskan: SMA N 1 Yogyakarta.