Postingan

#1: Badai di Tanah Orang

Gambar
Berfoto di depan posko Suara angin itu membangunkan tidur secara paksa. Saya yang selalu was-was dengan hujan di malam hari, seketika terbangun dan mengenakan pakaian jaket ketika mendengar desis angin yang kian lama kian kencang. Ketika kebanyakan orang menyukai hujan di   malam hari, saya merasa saya sebaliknya dari mereka. Sejak kecil saya selalu berpikir berlebihan ketika mendengar suara hujan turun di malam hari, apalagi jika disertai angin. Seperti malam itu.

Secuil Jejak Sinawang di Astana Giribangun

Gambar
8 April 2018. Di Astana berdelapan minus Okik dan Nisa 8 April 2018 Pagi itu, selepas subuh, mobil yang kami tumpangi telah melaju di jalan Yogyakarta – Karanganyar. Dengan menahan posisi duduk yang berdempetan, kami bersuka cita menyambut perjalanan kami ini. Perjalanan selama kurang lebih tiga jam tersebut nantinya akan menjadi sebuah cerita perjalanan yang lucu bagi kami.                 Jalanan masih sepi, matahari pun masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Pun kami, ada yang masih menahan kantuk pagi itu. Kami berdelapan orang berangkat ke Karanganyar memang pagi-pagi sekali. Tujuan kami hari itu adalah Astana Giribangun. Makam keluarga Soeharto, presiden Republik Indonesia ke-2. Berbekal teknologi canggih bernama Google Maps, kami mengikuti alur jalan yang ada. Beberapa kali kami harus mencari jalan lain karena jalan utama digunakan untuk Car Free Day .

Malam 10 Januari di Kaliurang

Gambar
Ramai-ramai  Malam 10 Januari 2018 di Kaliurang begitu dingin.                 Saya melangkahkan kaki menghampiri Sang Merah Putih. Dengan menahan dingin setelah tangan dan wajah terbasuh air beberapa detik sebelumnya, pikiran saya terbang menghampiri ingatan 5 tahun lalu. Prosesi penghormatan bendera mengingatkan saya ketika pengukuhan Paskibraka kala itu. Begitu khidmat.                 Dua hari sebelumnya, di sebuah tempat yang lumayan luas, saya bersama dengan 28 kawan baru—yang kelak akan menjadi bagian dari perjalanan kurang lebih satu tahun atau bahkan lebih—dikumpulkan menjadi satu. Seharusnya kami bertiga puluh orang. Saya menengok sekeliling, tempat yang lumayan bagus untuk kami singgahi beberapa hari ke depan. Sebelah selatan lapangan terdapat rumah bersusun dua lantai dan berdinding kayu. Rumah tersebut yang akan...

#Narasi, Membaca Nonfiksi Rasa Fiksi

Gambar
(Dimuat di Nuansa Kabar edisi bulan Maret 2017) Judul Buku                        : #Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme Penyunting                        : Wisnu Prasetya Utomo Penerbit                            : Pindai Tahun Terbit                     : 2016 Tebal Halaman                  : i-xviii + 466 halaman Belakangan ini di dunia maya sedang marak adanya berita-berita yang singkat, cepat, dan mayoritas dari mereka hanya mengandalkan satu atau dua narasumber. Bisa dikatakan pula, saat ini media online sedang “naik daun” dan sangat digemari oleh masyarakat untu...

Kancil dan Tarzan: Sebuah Analogi

Gambar
Bersama Surayah “Waktu akan membuatmu lupa, tapi menulis akan membantumu mengingatnya.”             Minggu, 26 Februari 2017. Pukul 08.50 WIB aku sudah mendaratkan kakiku di sana. Di sebuah halaman parkir sebuah gedung megah di Jalan HOS Cokroaminoto. Halaman parkir yang tak begitu luas namun cukup untuk menampung beberapa kendaraan bermotor itu tempatku menunggu dibukanya gerbang menuju sebuah seminar kepenulisan. Di depan halaman parkir tersebut berdiri dengan megahnya sebuah gedung bertuliskan: SMA N 1 Yogyakarta.

Persku, Persmu, Pers Kita Semua

Gambar
Sumber: Google Image Lengsernya rezim Orde Baru digadang-gadang menjadi tonggak kebebasan pers di Indonesia. Kebebasan media massa dalam pemberitaan pada zaman Orde Baru sifatnya represif, berbeda dengan zaman ketika Orde Baru telah lengser. Melalui Departemen Penerangan, pemerintah siap memberedel media massa yang pemberitaannya menyinggung pemerintah. Maka dari itu, media massa harus pintar memilih isi pemberitaan jika tidak ingin mendapatkan ancaman pemberedelan.

Literasi Media, Serpihan Kecil Semester Tiga

Gambar
Formasi Lengkap bersama Perwakilan SMP Aku hanya membaca buku tentang media saat itu. Membaca dan mencoba memahami lembar demi lembar yang disuguhkan dengan cover berwarna dominan kuning dan abu-abu. Di dalam buku itu, amatan mengenai berbagai gerak-gerik media tersaji di sana. Juga mengenai literasi media. Amatan mengenai gerak-gerik media hingga literasi media ditulis dengan apik oleh masing-masing penulis. Semuanya menarik perhatian dan membuat aku berdecak sembari bergumam: “Oalaahh kok ho’oh yoo…” (Iya, semacam itu pokoknya mah).             Dari buku itu, aku lebih mengenal apa itu Literasi Media. Gerakan untuk  mengajak orang lain untuk lebih melek media itu aku pikir merupakan gerakan yang menyenangkan. Bersosialisasi dengan orang banyak dan menyebarkan ilmu kepada mereka adalah kegiatan yang sangat sangat mengasyikkan dan menumbuhkan kepuasan tersendiri, bukan? Lebih dari itu, apabila target literasi juga welc...

Dari Magelang ke Magelang

Gambar
Magelang, 16 Oktober 2016 Magelang subuh itu terasa lebih sejuk dari biasanya. Kabut putih perlahan memudar dari pandangan, namun dingin masih terasa menembus kulit. Alunan lagu “Darah Juang” menemani aku memutar kembali ingatan-ingatanku tentang semuanya, tentang aku yang resmi menjadi seorang anggota muda suatu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampusku. Ragaku tak kuat menahan isi pikiran-pikiran di otakku untuk pergi ke ingatan masa lalu. Satu tahun yang lalu.

Seragam Putih itu Kebanggaan

Gambar
Kepatihan, 18 Agustus 2013 15 Agustus. Tepat tanggal ini di tiga tahun yang lalu, aku menjadi salah satu orang yang beruntung bisa menjadi bagian dalam anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Bertempat di Bangsal Sewoko Projo, Gunungkidul, kami, 72 Calon Paskibraka Kabupaten Gunungkidul 2013 dikukuhkan menjadi Paskibraka Kabupaten Gunungkidul 2013.

Membaca Media Melalui “Suara Pers, Suara Siapa?”

Gambar
  Buku "Suara Pers, Suara Siapa?" Saya awalnya hanya membaca sebuah artikel “Suara Pers, Suara Siapa?” di laman pindai.org pada saat itu. Saya tertarik untuk membacanya karena isi pembahasan artikel tersebut kebetulan sesuai dengan apa yang sedang saya pelajari di bangku kuliah. Pembahasannya tidak lain dan tidak bukan yaitu mengenai media-media yang kian marak pada saat ini dan pengaruhnya terhadap publik. Saya tentu sangat tertarik ketika mendengar kabar bahwa buku kumpulan tulisan terkait isu media yang ditulis oleh seorang peneliti di pusat kajian media dan komunikasi, Remotivi, Wisnu Prasetya Utomo, yaitu “Suara Pers, Suara Siapa?” akan segera diterbitkan. Didesak dengan rasa penasaran dan kurangnya asupan buku meng enai kajian media, akhirnya saya memutuskan untuk membelinya.